Al-Ayyubi, Al-Quthuz dan Al-Fatih

Seharian kemarin saya hanya berkutat dengan mereview laporan-laporan audit dari rumah. Kondisi badan yang masih kurang fit memaksa saya untuk sedikit mengistirahatkan tubuh ini.

Selama satu hari itu juga saya gunakan untuk membaca kembali mengenai sejarah beberapa peperangan yang dijalani oleh kaum Muslimin. Bukan karena saya menyukai perang, sehingga literatur yang dibaca adalah tentang kisah hebat para pejuang-pejuang Islam di dalam menegakkan agama Allah. Akan tetapi, semua karena saya tengah merindukan sosok pembaharu dan pejuang Islam yang dapat kembali dipandang oleh dunia saat ini. Pejuang Islam yang akan kembali menyatukan berbagai kelompok yang sudah tercerai berai di berbagai belahan penjuru dunia. Kondisi yang kini banyak terpisahkan dan terdegradasi atas nama nasionalisme.

Beberapa pejuang dan sekaligus pemimpin kaum Muslimin yang saya uraikan di bawah ini hanyalah sekelumit cerita. Terlalu singkat pemaparan yang saya ceritakan di sini. Namun semoga ini bisa menjadi sebuah prakata bagi diri dan anak-anakku maupun orang lain yang membacanya. Harapannya kemudian, kita akan lebih mencari tahu tentang sosok pejuang yang saya ulas di sini, untuk dapat mengambil hikmahnya bagi kehidupan yang dijalani.

Salahuddin Al-Ayyubi

Pada tanggal 15 July 1099 (bertepatan dengan tahun 492 H), Baitul Maqdis atau kota Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Setelah hari itu, berlangsunglah kemudian keganasan luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Penduduk Baitul Maqdis saat itu berjumlah 70,000 orang. Mereka yang terdiri dari kaum Muslimin dan bangsa Yahudi serta orang-orang Kristian yang tidak memberikan pertolongan kepada Pasukan Salib, dimusnahkan dan dibunuh semuanya hanya dalam waktu selama 8 hari.

Setelah hampir empat puluh tahun kaum Salib menduduki Baitul Maqdis, Shalahuddin Al Ayyubi terlahir ke dunia. Beliau berasal dari keluarga yang taat beragama dan berjiwa pahlawan. Shalahuddin Al Ayyubi terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140 km Barat Laut kota Baghdad), dekat sungai Tigris pada tahun 1137 M.

Selama puluhan tahun berikutnya, tidak ada satu pun kaum Muslimin yang berhasil merebut kembali kota al-Quds dari tangan Pasukan Salib. Pertempuran untuk merebut kembali kota Yerusalem akhirnya baru bisa tercapai pada tanggal pada 2 Oktober 1187 M (hari Jum’at, 27 Rajab 583 H). Kota Yerusalem berhasil direbut kembali, setelah selama 88 tahun dikuasai oleh Pasukan Salib. Tanggal itu juga memiliki makna simbolis khusus bagi Muslim karena bertepatan dengan tanggal 27 Rajab yaitu tanggal peringatan Isra Mikraj. Hari dikuasainya kembali al-Quds merupakan hari yang baik, sayyidul ayyam. 

Di dalam buku “The Historians -History of the World” disebutkan sifat-sifat Shalahuddin Al Ayyubi sebagai berikut: 

“Keberanian dan keberhasilan Sultan Shalahuddin itu terjelma seluruhnya pada perkembangan kepribadian yang luar biasa. Beliau merupakan seorang Muslim yang taat. Sudah menjadi kebiasaan bagi Sultan Shalahuddin membacakan Kitab Suci Al-Quran kepada pasukannya menjelang pertempuran berlangsung. Beliau juga sangat disiplin menggada setiap puasanya yang tertinggal dan tidak pernah lalai mengerjakan solat lima waktu sampai pada akhir hayatnya”.

Shalahuddin Al Ayyubi meninggal pada tanggal 4 Maret 1193 M di Damaskus, Syria. Seluruh kaum Muslimin yang menyaksikan kewafatannya meneteskann air mata. Sultan yang mengepalai negara yang terbentang luas dari Asia hingga ke Afrika itu hanya meninggalkan warisan 1 dinar dan 36 dirham bagi keluarganya. Shalahuddin Al Ayyubi tidak meninggalkan emas, tidak punya tanah atau kebun. Padahal beliau berkuasa atas kerajaan selama berpuluh tahun dan memegang jabatan sebagai panglima perang kaum Muslimin.

Saifuddin Mahmud Al-Quthuz 

Saifuddin Quthuz adalah satu di antara tokoh besar dalam sejarah muslimin. Nama aslinya adalah Mahmud bin Mamdud. Ia berasal dari keluarga muslim berdarah biru. Quthuz adalah putra saudari Jalaluddin Al-Khawarizmi, Raja Khawarizmi yang masyhur pernah melawan pasukan Tartar dan mengalahkan mereka. Namun kemudian pasukan ia akhirnya kalah dan lari ke India. Ketika ia sedang lari ke India, Tartar berhasil menangkap keluarganya. Tartar membunuh sebagian mereka dan memperbudak sebagian yang lain.

Mahmud bin Mamdud adalah salah satu dari mereka yang dijadikan budak. Bangsa Tartar menjuluki si Mahmud dengan nama Mongol, yaitu Quthuz, yang berarti “Singa Yang Menyalak”. Tampaknya sedari kecil Quthuz memiliki karakter orang yang kuat dan gagah. Kemudian Tartar menjual si Mahmud kecil di pasar budak Damaskus. Salah seorang bani Ayyub membelinya. Dan ia dibawa ke Mesir. Di sini, ia pindah dari satu tuan ke tuan yang lain, sampai akhirnya ia dibeli oleh Raja Al-Mu’izz Izzuddin Aibak dan kelak menjadi panglima besarnya.

Peperangan di Ain Jalut adalah salah satu peperangan yang tak akan dilupakan oleh peradaban dunia. Pada hari Jumat, tanggal 25 Ramadhan 658H atau bertepatan dengan 3 September 1260 M, tentara- tentara Allah pimpinan Saifuddin Quthuz berhasil merebut kemenangan atas tentara Tartar di Ain Jalut. Padahal sebelumnya, tentara Tartar tidak pernah ada cerita dikalahkan dalam sebuah pertempuran besar. Andaipun kalah di beberapa pertempuran, maka mereka akan mampu menebus kembali kekalahannya.

Akhirnya hancurlah pasukan Tartar di ujung mata pedang kaum muslimin dan tidak pernah mampu lagi menebus kekalahan mereka di Ain Jalut. Kemenangan itu akhirnya melemahkan posisi bangsa Tartar di belahan negeri-negeri lainnya. Setengah dari daratan bumi yang pernah dikuasainya, berangsur-angsur menjadi lemah.

Pada pertempuran Ain Jalut ini, al- Quthuz didampingi isterinya Jullanar yang turut menyertai dalam rombongan pasukannya. Ketika Jullanar terluka parah, al-Quthuz memapahnya sambil berkata, ”wahai kekasihku”. Jullanar dalam keadaan terluka parah tetap memberikan semangat kepada suaminya. Dia pun membalas ucapan mesra suaminya dengan mengatakan, ”wahai al-Quthuz, lebih cintalah kamu kepada jihad ini”. Lalu isterinya menghembuskan nafas terakhir dan gugur sebagai syahidah.

Dalam kisah Quthuz ini, kita bisa mencatat dengan jelas bagaimana skenario ajaib Allah SWT. Bangsa Tartar telah memperdaya muslimin dan memperbudak salah satu anak kaum muslimin yang mereka jual langsung di pasar budak di Damaskus. Untuk kemudian ia diperjualbelikan dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Hingga akhirnya sampai ke suatu negeri yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sampai kemudian menjadi raja di negeri asing itu dan sepak terjang Tartar yang membawanya dari ujung dunia Islam ke Mesir pun harus berakhir di tangannya.

Subhanallah, segala puji hanya bagi Allah yang telah mengatur dengan Maha Lembut dan memperdaya dengan Maha Bijak. Tiada sesuatupun di bumi dan langit yang samar bagi-Nya.

Muhammad Al-Fatih

Sultan Muhammad Tsaniy atau yang lebih dikenal dengan Sultan Muhammad Al Fatih, dilahirkan pada tanggal 26 Rajab tahun 833 H, bertepatan dengan tanggal 20 April 1429 M. Beliau menghabiskan masa kecilnya di kota Adrenah. Ayah beliau, Sultan Murad II melatih dan mendidik anaknya itu dari segala segi. Selain dilatih seni berpedang, memanah, dan keterampilan mengendarai kuda, beliau juga diberikan pendidikan di bidang keagamaan. Ayah beliau mendatangkan beberapa Ulama pilihan di zamannya untuk mendidik agama Muhammad Al Fatih.

Al Fatih

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad).

Itu adalah salah satu hadist Nabi Muhammad SAW. Delapan abad setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata demikian, apa yang beliau kabarkan benar-benar terjadi. Benteng Konstantinopel yang terkenal kuat dan tangguh itu, akhirnya takluk di tangan kaum muslimin. 

Kota tersebut ditaklukkan oleh kaum Muslimin di bawah komando Sultan Muhammad Al-Fatih, yang melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium. Takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, terus membahana di angkasa kota Konstantinopel. Laksana gemuruh yang akan meruntuhkan langit di kota itu. Pada tanggal 27 Mei 1453 M, Sultan Muhammad Al Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah. Mereka memperbanyak shalat, doa dan dzikir. 

Hingga tepat jam 1 pagi pada hari Selasa tanggal 20 Jumadil Awal tahun 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimat tauhid sambil menyerang kota. Kaum Muslimin akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota.

Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan salat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan salat tahajjud sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan salat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya. Sultan Muhammad Al Fatih wafat pada tanggal 3 Mei 1481 ketika berusia 49 tahun.

“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari” (QS An-Naml: 50).

Itulah sekelumit cerita pendek tentang 3 orang pejuang Islam, yaitu Salahuddin Al-Ayyubi, Al-Quthuz dan Al-Fatih yang akan terus hidup ceritanya hingga akhir jaman nanti. Semoga mereka semua mendapatkan kemuliaan dan kematiannya menjadi syahid di jalan Allah. Biarlah kami yang masih hidup ini dapat mengambil pelajaran berharga dari ritme kehidupan yang pernah mereka jalani. Untuk menjadi pelajaran dan catatan, serta pengingat bagi diri untuk kemudian bertanya pada diri sendiri.

“Apa yang sudah kamu lakukan bagi agamamu?”
“Engkau ingin meraih surga-Nya, namun perjuangan apa yang sudah kau lakukan untuk menegakkan agama yang diridhoi oleh Allah ini?”
“Seperti apa kecintaanmu pada dunia, sehingga melupakan untuk membantu mereka yang sedang kesulitan?”
“Engkau terlahir dalam Islam, namun sudahkah kau mengenal Islam secara seutuhnya?”
“Jangan hanya kau katakan bahwa Islam seakan tengah ternoda saat ini, namun apa yang bisa kau lakukan untuk bantu memurnikannya?”
“Engkau mengaku Islam, namun sudahkah agamamu itu menjadikanmu bangga untuk bisa mengatakan, Yes, I am Muslim?”

Salam suksesmulia untuk semua,

@AndySukmaLubis

“Bahan cerita dikutip dari beberapa sumber, antara lain data dari id.wikipedia.org, www.dakwatuna.com dan beberapa referensi lainnya”.

Comments

  1. @KangFerdiSIKLUS Reply

    Tulisan yang inspiratif. Benang merah yang dapat saya ambil dari kisah ketiga tokoh hebat di atas adalah, mereka lahir dan dibesarkan dalam kondisi Islam dijadikan sistem kehidupan, sehingga semua elemen mendukung mereka jadi orang besar…

      (Quote)  (Reply)

    • Andy Sukma Reply

      Sepakat kang Ferdi, mereka semua menjadikan Islam sebagai pegangan hidup, sehingga yakin akan ada Allah yang memberi kekuatan dan kemudahan pada mereka semua…

        (Quote)  (Reply)

  2. sulfanzayd Reply

    Dekat dengan Allah, mencintai Quran dan jihad.. membawa mereka ke puncak kesejatian suksesmulia yg sesungguhnya

      (Quote)  (Reply)

    • Andy Sukma Reply

      refleksi dari mencintai-Nya yang sepenuh jiwa, hingga dapat membuat mereka kian tenggelam dalam kenikmatan tuk berserah diri pada-Nya…semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari perjuangan yg tlah dilakukan.

        (Quote)  (Reply)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Current day month ye@r *

Animated Social Media Icons Powered by Acurax Wordpress Development Company